Pengalaman Research Dive Akan Diterapkan Di PWK ITS

Data saat ini sudah terbuka dan dapat dikelola dengan mudah melalui Big Data. Trendnya mulai banyak organisasi yang mengambil, mengelola dan menganalisis data dari sumber mana saja, seperti Pulse Lab Jakarta (PLJ). Salah satu acara tahunan oleh PLJ ialah Research Dive.
Research Dive merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu singkat. Pada Researceh Dive ini, terdapat dua dosen PWK ITS yang berkesempatan mengikuti penelitan selama empat hari terhitung mulai 19 – 22 November 2017.
Ialah Cahyono Susetyo ST MSc PhD dan Siti Nurlaela ST M Com yang berhasil menghasilkan output berupa Extended Abstract yang menganalisis isu terkait pembangunan dan kemanusiaan di Indonesia. Penelitan para peneliti ini akan dikembangkan menjadi makalah dan jurnal untuk dipublish ke jurnal internasional
Cahyono Susetyo ST MSc PhD, Kepala Laboratorium Komputasi PWK bercerita pada penelitan ini, setiap kelompok peneliti didampingi oleh staf dari PLJ yang bertindak sebagai fasilitator penyedia data. “Jadi, ketika di tengah-tengah penelitian kami kekurangan data, pendamping tim akan selalu siap menyediakan data yang diperlukan dengan cepat,” cerita Cahyono.
Kondisinya, dalam mencari data saat ini masih secara manual. Hal ini berbeda sekali dengan staf PLJ yang sudah terbisa mengolah data secara langsung di browser. “Untuk pendekatan yang seperti itu masih harus dipelajari lagi di PWK ITS ”, ujar ahli ArcGis tersebut. Mengingat data yang ada sudah bisa diakses dengan mudah, maka para peneliti dan praktisi sudah melirik sistem database.
Cahyono mengungkapkan ada banyak sekali pelajaran yang didapat setelah mengikuti acara tersebut. Menurutnya kompetensi yang dimiliki oleh staf PLJ dalam pengolahan data itu cukup bagus, sehingga perlu dicontoh. Menariknya, mereka ini tau bagaimana cara mencari data di internet. “Untuk di PWK sendiri dalam mencari data masih butuh ke Bakesbang untuk memperoleh izin dari dinas – dinas terkait. Kadang kala prosesnya pun sangat merepotkan sekali,” paparnya.
Biasanya, selama survey juga butuh wawancara untuk melengkapi kuisoner. Dengan adanya media sosial pendekatan yang dilakukan bisa dengan mudah. Responden bisa diminta untuk memetakan masalah keruangan dengan cara menulis tweet dengan diberi hashtag permasalahan di twitter. “Hasil tweet dari mereka ini dihimpun dahulu kemudian dicocokkan dengan geolocationnya, sehingga kita tahu kalau di titik tersebut terdapat masalah,” tungkasnya.
Kedepannya Cahyono berharap akan ada kelanjutan dari kuliah tamu Big Data dari PLJ. Ia ingin adanya praktek langsung dalam mengambil data, supaya mahasiswa bisa terbiasa. “Langsung hands on gitu. Jadi, biar mahasiswa bisa merasakan gimana rasanya berinteraksi langsung dengan big data di internet,” ujarnya mantap.

By : Belia Ega Avila