Usung Konsep 3E Revitalisasi Bozem Krembangan, PWK ITS Juara Festagama

Mahasiswa ITS kembali meraih gelar jawara dalam perlombaan tingkat nasional. Kali ini tim yang diberi nama Surabay (Surabaya Krembangan Bay) ini mampu merebut posisi pertama dalam ajang Festival Kota Gadjah Mada (Festagama) 2018, event besar Himpunan Mahasiswa PWK UGM. Minggu (13/5).

Ialah Rivan Aji Wahyu, Rezky Dwi, dan Muhammad Fahri Syukri, mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS yang berhasil memukau juri dengan konsep yang berjudul Surabay (Surabaya Krembangan Bay) Optimalisasi Bozem Krembangan Melalui Pendekatan Urban Renewal Berbasis 3E (Eco People, Eco Economic, Eco Drain).

Konsep 3E yang diusung ini direncakaan diterapkan pada kawasan Bozem Krembangan Surabaya guna menunjang kawasan tersebut sebagai daerah wisata ruang terbuka hijau. Menurut penjelasan Rivan, ketua tim, latar belakang memilih lokasi di Krembangan dikarenakan kondisi bozem yang memprihatinkan, mulai dari air keruh hingga sampah yang terdapat di bozem. “Kondisinya dari tahun ke tahun semakin buruk,” ungkap mahasiswa tingkat akhir tersebut. Konsep ini menerapkan revitalisasi untuk mencapai hasil lebih baik. lebih baik.

Konsep eco people disini ditujukan untk menciptakan sumber daya manusia yang terampil dalam mengelola dan memanfaatkan fungsi bozem. “Masyarakat berperan dalam menciptakan lapangan usaha baru saat wajah bozem diubah menjadi wisata. Peran masyarakat ini mencerminkan eco people,” tutur pria kelahiran Karanganyar ini.

Dengan adanya lapangan pekerjaan ini, maka tingkat pendapatan penduduk akan meningkat. Sebab akan banyak masyarakat dari luar daerah yang berkunjung. “Disini, nilai eco economicnya ada,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa dalam membuat perencanaan ini tetap memperhatikan fungsi bozem sebagai daerah pengendali banjir (eco drain).

Dalam karya tulis yang ia garap , Rivan tidak tanggung-tanggung dalam menganalisis permasalahan bozem Krembangan. Ditunjang dari latarbelakang yang kuat, pendetailan konsep, dan tiga metode analisis sekaligus. Analisis terdiri dari analisis urban heat island, delphi, dan swot, serta terdapat sistem zonasi. “Kami juga menampilkan video visual konsep rencana Surabay ini,” terangnya.

Meski begitu, Rivan mengakui sedikit kewalahan saat tanya , khususnya pertanyaan mengenai ruang inklusif. “Sedikit kesulitan sat menjawab, namun mungkin karena juri menilai penelitiannya cukup lengkap sehingga nilai kami lebih baik dari kelompok lain,” jelas pria asal Solo tersebut.

Tak berhenti di lomba saja, Rivan berharap hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya ini menjadi masukan untuk Badan Perencanaan Kota (Bappeko) Surabaya. “Mungkin bisa jadi pertimbangan dan rekomendasi untuk masterplan bozem Krembangan kedepannya,” terangnya.

Diakhir wawancara, Rivan membagikan sedikit tips presentasi. Ia dan tim menyiapkan presentasi apik nan unik. Rivan dan kelompoknya saat presentasi menggunakan blankon khas Surabaya sebagai identitas lokal. “Dengan tampilan blankon, kami mendapat apresiasi dari juri dan peserta lain. Hanya dengan hal kecil tersebut percaya diri saat presentasi juga meningkat,” akhirnya.(bel/jel)