Best Delegate bidang Perumahan dan Permukiman

Nama Lengkap : Nur Arning Tengara Kasih

NRP : 082115400000031

Judul Kegiatan : Rembuk Pemuda Nasional (mengacu pada RKP 2018)

Judul Lomba : Pemilihan Delegasi dan Essai Terbaik bidang Perumahan dan Permukiman

Penghargaan : Best Delegate bidang Perumahan dan Permukiman

Mataram – Masalah kependudukan tidak hanya dirasakan oleh kota-kota metropolitan saja. Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pun kini ikut mengalami problematika serupa. Sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Nur Arning Tenggara Kasih hadir dengan solusi untuk permasalahan ini. Solusi inilah yang mengantarkannya sebagai delegasi terbaik dalam Indonesia Youth Collaboration Forum di Bali, mengalahkan puluhan perwakilan lain dari seluruh provinsi di Indonesia pada Februari lalu.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Kota Mataram terus mengalami kenaikan selama 2014-2016. Bahkan dalam periode 2015-2016 jumlah penduduk mengalami peningkatan sebesar dua kali lipat. Kenaikan penduduk yang begitu besar membuat jumlah permintaan dan kesediaan lahan di kota Mataram tidak seimbang. Tanpa bisa dihindari, berbagai masalah kependudukan mulai bermunculan di kota ini.

Menurut Kasih masalah utama yang muncul dari membludaknya jumlah penduduk di Kota Mataram adalah semakin banyak konflik, menjamurnya pemukiman illegal, serta banyaknya pemukiman kumuh. Ketiga permasalahan ini adalah buntut dari munculnya gap antara rumah tangga yang memiliki tempat tinggal dan yang tidak, atau dikenal dengan istilah backlog. “Di NTB permasalahan pemukiman belum menjadi pembicaraan yang dominan,” ujarnya.

Demi mengatasi permasalahan pemukiman, menurut Kasih, Mataram perlu mengembangkan konsep Land Bank. Lebih lanjut, Land Bank adalah penyediaan suatu tanah pada suatu area untuk disimpan dan dicadangkan guna pembangunan di masa yang akan datang. Konsep ini sudah diterapkan di beberapa negara, termasuk Filipina dan sejumlah negara-negara di Eropa.

Dalam Land Bank yang dirancang Kasih, tanah yang dikuasai negara seperti tanah terlantar dan tanah aset BUMD yang belum digunakan dikuasai secara penuh oleh pemerintah. Selain itu penetapan pajak yang tinggi terhadap tanah yang lebih dari 10 tahun tidak dijual turut menjadi bagian dari strategi Kasih dalam Land Bank ini. “Tanah yang tidak terpakai dalam kurun waktu tertentu juga harus di jual ke pemerintah, agar lebih produktif,” jelas Kasih.

Sementara itu untuk menuntaskan permasalahan pemukiman kumuh Mataram perlu melakukan pendekatan yang berbeda. Pemukiman dengan nilai koefisien dasar bangunan (KDB) diatas 80 persen diarahkan untuk wajib menanam tanaman merambat atau roof garden. Hal ini dilakukan demi menjaga estetika pemukiman dan menghilangkan kesan kumuh. “Namun pendekatan seperti ini membutuhkan partisipasi seluruh stakeholder demi solusi pembangunan Bersama,” terang mahasiswa tahun ketiga ini.

Setelah menjadi best delegates di Bali, Kasih merasa punya tanggung jawab untuk meningkatkan tata ruang di NTB khususnya Kota Mataram. Putri kelahiran Klaten ini pun telah menyiapkan sebuah proyek sosial bernama RUAS (Ruang Penerus Bangsa).

Program ini berisi sejumlah agenda diskusi dan aksi nyata guna memperbaiki penataan ruang yang siap dikembangkan di NTB. Kasih juga telah berikrar untuk menjalankan proyek ini. “Proyek sosial ini sekaligus untuk membantu program KOTAKU (Kota tanpa kumuh) yang dicanangkan oleh pemerintah,” tuntasnya. (mik/qi)