Tingkatkan Pemahaman Isu Kota, PWK ITS Gelar Kolaborasi Internasional dengan USM

Kolaborasi internasional antara Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dengan School of Housing, Building and Planning (HBP), Universitas Sains Malaysia (USM) dikemas dalam bentuk kuliah tamu pada,  Selasa (3/4).

Satu perwakilan dosen dari masing – masing institut didapuk menjadi pembicara dalam acara tersebut. Ialah Putu Gde Ariestita ST MT pembicara dari PWK ITS yang mengusung tema Urban Design and Planning in Surabaya. Sementara pembicara dari USM,  Dr Ismail Isa mengangkat isu Place Attachment A Waterfront Development in Malaysia.

Dalam penjelasannya, Aries sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa keberhasilan pengelolaan kota Surabaya dipengaruhi oleh kebijakan yang ada. Pasalnya, ada lima kebijakan inti yang menjadi fokus perhatian Surabaya saat ini, antara lain jaminan kehidupan di Kota Surabaya, harmonisasi di kota multikultur, kemudahan berbisnis, kehidupan yang layak dan persiapan kota masa depan.

Menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi di wilayah bagian timur Jawa, Surabaya mampu meningkatkan pendapatan masyarakatnya. “Bahkan bisa dirasakan oleh masyarakat yang berada di daerah pinggirannya karena terdapat 14% share economy,” ceritanya.

Namun, keberhasilan tersebut masih belum bisa mengatasi satu permasahan inti, yaitu kemacetan. Masih kurangnya transportasi publik yang menghubungkan daerah pinggiran dengan pusat kota. Hal ini berbeda sekali dengan Malaysia yang sudah berhasil menerapkan transportasi publik.“Kondisi ini memang sulit ditangani di Indonesia karena pada dasarnya Indonesia merupakan pasar yang baik bagi industri otomotif di Jepang,” ungkapnya.

Disisi lain, Ismail lebih menyoroti keberhasilan pembangunan kota tepi pantai atau waterfront city di Malaysia. Dalam pembangunannya sangat penting untuk memperhatikan hubungan keterikatan tempat dengan pengunjungnya atau place attachment.

Menurutnya dalam membangun sebuah kota tidak hanya berfokus pada produk perencanaan saja, tetapi harus ada rasa di dalamnya. “Pada dasarnya manusia akan memiliki ikatan kuat secara emosional terhadap suatu tempat,” tutur salah dosen USM tersebut.

Place attachment memiliki kontribusi yang besar dalam hal daya tarik suatu tempat. Pengalaman pergi ke suatu tempat tidak hanya untuk melihat kondisi fisiknya saja tetapi juga untuk membangun persepsi dan psikologi.

Dengan adanya sharing isu yang terjadi di masing – masing negara ini diharapkan mampu membuka wawasan baru bagi mahasiswa PWK ITS dan HBP USM. Kedepannya, USM juga berencana akan mengundang dosen PWK untuk memberi kuliah tamu disana. Sehingga diharapkan terjalin kerjasama yang kuat diantara keduanya. (bel)