CITIES 2017 – Multi Perspective On Peri-Urban Dinamics Towards SUstainable Development

Belajar Hadapi Fenomena Peri-Urban dari Melbourne

Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) kembali menggelar konferensi internasional CITIES. Bertempat di Hotel ELMI Surabaya, gelaran tahunan ini mengusung tema Dinamika kawasan peri urban. Salah satu permasalahan yang diulas adalah mengenai analisa perubahan fungsi lahan seperti yang disampaikan oleh salah satu pembicara kunci, Prof Michael Buxton dari RMIT University, Australia, Rabu (18/10)

Peri urban merupakan salah satu topik hangat dewasa ini. Berbagai aspek menjadi isu yang menarik untuk diulas. Begitu yang disampaikan oleh Prof Michael Buxton sebelum menyampaikan materinya kepada peserta konferensi yang hadir.

“Di Amerika Serikat, wilayah peri-urban penduduk meningkat mencapai satu per tiga dari total wilayah regional. 30% dari pembangunan pemukiman pun beralih ke kawasan peri-urban tersebut” ungkap profesor bidang global, tata kota, dan studi sosial ini. Tidak hanya di negeri Paman Sam, sebagian besar negara di tanah Eropa juga mengalami hal serupa.

Buxton kemudian menunjukkan beberapa visualisasi peralihan ketatakotaan yang terlihat cukup signifikan. Dalam salah satu slide presentasinya terlihat perbandingan persebaran kepadatan penduduk dunia tahun 2006 dengan tahun 2010. “Fenomena ini sebenarnya sudah terprediksi jauh sebelum ini. Praktisi sosial juga meramalkan disparitas yang mulai menghilang antara wilayah kota dan desa” sambungnya.

Begitupun yang terjadi di kota Melbourne, Australia. Pemerintah Australia memberikan perhatian cukup dalam hal rencana tata kota. Khususnya Kota Melbourne yang merupakan salah satu wilayah berkecenderungan menjadi kota metropolitan. Hal tersebut tercermin dalam skema Rencana Kerja Melbourne dan Metropolitan (MMBW) pada tahun 1987.

“Skema ini mencakup alasan yang menguatkan pihak pemegang kepentingan untuk mengawal perkembangan kawasan peri-urban,” ulas Buxton. Diantaranya yaitu melindungi biodiversiti, mengontrol sumber air, mendukung agrikultur, mengantisipasi keamanan pangan serta dampak terhadap perekonomian negara.

Dalam menghadapi fenomena peri-urban, pemerintah Australia sudah mencanangkan rencana baru yang disebut Melbourne 2030 principle. Dalam rencana tersebut, salah satu yang sangat di perhatikan adalah mengenai green belts. “Green belts adalah ruang terbuka hijau yang difungsikan sebagai pembatas antara aktivitas daerah satu dengan yang lain,” terang awardee Honounary Fellow dari Planning Institute of Australia ini.

Membandingkan dengan Indonesia, Bruxton optimis bahwa ide Green Belts dapat juga diterapkan di Indonesia. Sebagai negara tropis, ide ini bukan mustahil dijalankan. “Pengkajian harus terus masif dilakukan, saya pribadi terbuka sekali jika ada respondesi dari pemikiran kalian semua,” terangnya bersungguh-sungguh

CITIES Usung Isu Perkembangan Desa Menjadi Kota

Perkembangan wilayah pedesaan menjadi wilayah metropolitan sudah mulai terasa berbagai kawasan di Indonesia seiring dengan melesatnya angka mobilitas masyarakat. Fenomena tersebut kemudian diangkat menjadi tema besar konferensi CITIES yang diadakan oleh Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS, Rabu (18/10).

Mengusung tema Multi Perspectives on Peri-Urban Dynamic towards Sustainable Development, konferensi tahunan ini menyajikan total 50 paper yang mengangkat isu serupa. “Peri urban merupakan sebutan bagi kawasan pedesaan yang memiliki kecenderungan untuk tumbuh menjadi kota,” terang Mochamad Yusuf, ST, MSc (Pak Yusuf), ketua pelaksana CITIES 2017.

Fenomena ini menjadi populer baik di kalangan akademisi, pemerhati lingkungan, maupun pemerintah. “Hal tersebut dikarenakan berbagai aspek yang turut terkait dalam dinamisasi suatu kawasan,” lanjut dosen yang juga merupakan Ketua Tim Peneliti penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan Surabaya Timur ini.

Aspek-aspek tersebut antara lain meliputi perekonomian, sosial, dan tentunya tata kota. Dalam aspek perekonomian misalnya, Pak Yusuf mencontohkan bahwa Peri-urban akan berimbas pada perubahan harga tanah. “Contoh lain yang signifikan adalah peralihan lahan pertanian menjadi pemukiman, seperti yang terjadi di wilayah perbatasan Surabaya-Sidoarjo,” ungkap Pak Yusuf.

Tantangan yang dihadapi Indonesia di masa mendatang adalah bagaimana pemerintah dapat menanggapi permasalahan ini dengan bijaksana. Regulasi dan kebijakan yang diambil akan jadi kunci penting pada berbagai aspek tersebut.

Konferensi CITIES kali ini dibuka dengan seminar oleh empat pembicara kunci dari RMIT University, Australia, Radbound University, Belanda, Intitut Teknologi Bandung, serta pembicara dari ITS sendiri. Keempat pembicara tersebut masing-masing mengulas mengenai gambaran umum, penyebab, dampak dari fenomena Peri-Urban ini.

Selain menggelar seminar, konferensi ini dilanjutkan dengan diskusi panel paralel. Sebanyak 200 peserta diajak untuk duduk berdiskusi dalam tiga panel diskusi guna pembahasan lebih lanjut menyoal Dinamika Peri-Urban terhadap Pembangunan Berkelanjutan.

”Tiga panel tersebut menyoal antara lain infrastructure & environment, community & urban management, serta sustainable development,” jelas Koordinator Program Pengembangan Profesi Departemen PWK ini.

Lebih lanjut, kata Pak Yusuf, paper-paper yang dipresentasikan dalam konferensi CITIES ini nantinya akan dipublikasikan pada IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (EES), sebagai lembaga publikasi jurnal terkemuka di dunia dan sudah terindeks scopus. “Harapannya publikasi tersebut juga akan membawa nama Departemen PWK ITS ke kancah dunia Internasional,” tutup Pak Yusuf.